SEKABAR.ID — Perhatian manajemen dalam sebuah organisasi teknis sering kali tersedot sepenuhnya pada isu-isu kritis operasional, seperti keandalan pasokan, kesiapan kontrak, hingga ketersediaan unit. Kondisi dilematis ini memicu sebuah kajian studi kasus mendalam yang ditulis oleh Nazerwan Radis, S.T., Mahasiswa Magister Manajemen Sekolah Pascasarjana Universitas Lancang Kuning (Unilak), di bawah bimbingan rektor sekaligus promotornya, Prof. Dr. Junaidi, S.S., M.Hum.
Kajian ini merefleksikan pengalaman profesional di lapangan menjadi peluang belajar ilmiah, sekaligus melatih kompetensi penyelesaian masalah (problem solving) organisasi melalui pendekatan teori manajemen modern.
Nazerwan mengidentifikasi bahwa fokus yang berlebihan pada target teknis utama kerap membuat tugas-tugas administratif yang dianggap kurang mendesak menjadi keteteran dan tertinggal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Berdasarkan bedah kasus yang dilakukannya, terdapat dua akar penyebab utama dari fenomena ini:
Belum Optimalnya Pembagian Porsi Perhatian, Manajemen belum membagi porsi pengawasan secara seimbang antara eksekusi lapangan dan pelaporan.
Minimnya Otomasi Sistem, Belum memadainya sistem otomasi digital untuk menangani pekerjaan administratif secara paralel dan bersamaan dengan kegiatan teknis.
Akibatnya, muncul risiko ketidakseimbangan yang nyata antara ketepatan operasional lapangan dengan ketertiban administrasi internal organisasi.
Guna membedah fenomena ini, Nazerwan mengusung Agenda Setting Theory atau Teori Penetapan Agenda (Dearing & Rogers, 1996; McCombs, 2004). Teori ini menjelaskan bahwa isu yang dianggap penting dan disuarakan oleh pimpinan secara otomatis akan menjadi fokus perhatian utama dari seluruh anggota organisasi.
”Pimpinan tidak selalu harus mengatur pekerjaan secara mikro, melainkan cukup menentukan agenda besar yang kemudian membentuk prioritas kerja kolektif. Dalam konteks organisasi teknis, ketika keandalan sistem dijadikan agenda dominan oleh pimpinan, maka pekerjaan pendukung seperti administrasi memerlukan sistem pengaman khusus agar tidak terlupakan,” papar Nazerwan.
Kajian ilmiah ini kian tajam setelah Nazerwan berdiskusi dan menyerap pandangan dari sejawatnya, Dr. Chandra Bagus, seorang pakar yang mendalami ilmu manajemen dari sudut pandang dinamika organisasi.
Merujuk pada gagasan Miles (2012), Dr. Chandra Bagus menjabarkan bahwa Agenda Setting Theory dalam dunia kerja dapat diukur melalui 6 (enam) indikator krusial:
Agenda (Isu Utama): Isu mana yang diposisikan sebagai hal paling penting dalam organisasi.
Attention (Perhatian): Seberapa besar volume perhatian pegawai yang diarahkan ke isu tersebut.
Framing (Pembingkaian): Bagaimana cara pimpinan mengemas dan membingkai masalah agar dipatuhi.
Salience (Tingkat Kedesakan): Seberapa mendesak isu tersebut dirasakan oleh seluruh tim.
Need for Orientation (Kebutuhan Arahan): Tingkat kebutuhan pegawai terhadap panduan pimpinan agar tidak bingung menentukan fokus.
Issue Prioritization (Penyusunan Skala Prioritas): Bagaimana mekanisme pemilihan dan penyusunan urutan kerja dilakukan.
Sebagai jalan keluar, Nazerwan Radis menawarkan tiga langkah taktis yang aplikatif bagi organisasi, yaitu: (1) Penetapan agenda kerja yang jelas dan transparan melalui rapat koordinasi berkala; (2) Penyusunan Indikator Kinerja Utama (KPI) yang mampu mengarahkan fokus kerja secara seimbang; serta (3) Melakukan monitoring berkala yang ketat terhadap progres pekerjaan pendukung.
Menanggapi hasil kajian kritis mahasiswanya, Prof. Dr. Junaidi, S.S., M.Hum., memberikan apresiasi tinggi namun memberikan catatan penguatan. Menurut Prof. Junaidi, gagasan ini sudah sangat kuat, namun perlu dilengkapi dengan mekanisme jaminan sistemik agar agenda utama pimpinan tidak sampai mematikan atau menghilangkan perhatian terhadap fungsi pendukung (back-office).
Melalui kajian ilmiah populis ini, para praktisi manajemen diingatkan kembali bahwa kuliah teori manajemen bukan sekadar menghafal konsep di atas kertas, melainkan wadah krusial untuk mengasah intuisi manajerial dalam membaca dan mengevaluasi setiap keputusan operasional secara bijaksana.
(Redaksi)






