LAMPUNG, SEKABAR.ID – Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terdeteksi mengarah ke wilayah Selat Sunda dan sebagian Kabupaten Lampung Selatan, Jumat (23/10/2026). Meski demikian, Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau memastikan tidak ada letusan yang tercatat pada hari tersebut.
Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang mengacu pada Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC) Darwin, sebaran abu terpantau sekitar pukul 13.00 WIB pada ketinggian hingga 7.000 kaki atau sekitar 2,1 kilometer. Abu tersebut dilaporkan bergerak ke arah barat laut dengan kecepatan 5 knot.
Sementara itu, analisis citra satelit Himawari-9 pada pukul 16.00 WIB menunjukkan sebaran abu vulkanik mengarah ke timur laut, mencakup sebagian wilayah Selat Sunda dan Kabupaten Lampung Selatan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Forecaster On Duty BMKG Lampung, Ramadhan Nupambudi, menjelaskan perbedaan arah sebaran yang terpantau tersebut berkaitan dengan waktu pengamatan masing-masing.
“Berdasarkan pemantauan BMKG, pada pukul 13.00 WIB sebaran abu terpantau bergerak ke barat laut, sedangkan analisis citra Himawari-9 pukul 16.00 WIB menunjukkan sebaran ke arah timur laut. Data tersebut menggambarkan kondisi pada waktu pengamatan masing-masing,” kata Ramadhan, Jumat (23/10/2026).
Pos Pengamatan Pastikan Tak Ada Letusan
Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Suwarno, membenarkan bahwa tidak ada letusan yang terjadi pada Jumat.
“Enggak ada letusan hari ini, Mas,” ujar Suwarno saat dikonfirmasi.
Suwarno juga menyampaikan laporan aktivitas gunung api dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Dalam laporan pengamatan pagi, kondisi visual Gunung Anak Krakatau tertutup kabut, sementara asap kawah tidak teramati. Kamera pengawas atau CCTV visual juga dilaporkan tidak aktif atau tertutup abu vulkanik.
Meski tidak ada letusan yang tercatat, aktivitas kegempaan Gunung Anak Krakatau masih terpantau melalui instrumen pemantauan.
Kegempaan Didominasi Tremor Menerus
Laporan PVMBG untuk periode pengamatan pukul 00.00–06.00 WIB dan 06.00–12.00 WIB mencatat total empat gempa hybrid atau fase banyak.
Selain itu, tremor menerus terekam dengan amplitudo 5–48 milimeter dan amplitudo dominan 10 milimeter. Laporan tersebut menyebut aktivitas kegempaan gunung berfluktuasi dan didominasi tremor menerus.
Suwarno mengingatkan masyarakat agar tidak menyimpulkan kondisi gunung hanya berdasarkan citra sebaran abu yang beredar. Masyarakat diminta mengacu pada laporan resmi dan rekomendasi keselamatan dari instansi berwenang.
“Walaupun tidak ada letusan yang tercatat hari ini, aktivitas Gunung Anak Krakatau tetap dipantau. Masyarakat diharapkan mengikuti informasi resmi dan tidak mendekati kawasan yang masuk zona berbahaya,” ujarnya.
Status Siaga, Radius Lima Kilometer Dilarang Dimasuki
Gunung Anak Krakatau saat ini masih berstatus Level III atau Siaga. PVMBG mengimbau masyarakat, wisatawan, pengunjung, dan pendaki untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius lima kilometer dari pusat erupsi.
Masyarakat juga dilarang mendekati pulau baru dalam radius satu kilometer di sektor barat laut dan tenggara Gunung Anak Krakatau.
Potensi bahaya yang perlu diwaspadai meliputi lontaran batu pijar, hujan abu lebat, aliran lava, serta erupsi sekunder yang dapat terjadi akibat kontak lava panas dengan air laut atau air hujan.
Masyarakat pesisir Lampung dan Banten diminta tetap tenang serta tidak mudah mempercayai informasi yang menyebut aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau secara otomatis akan menyebabkan tsunami.
Warga diimbau mengikuti arahan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat dan memantau perkembangan aktivitas gunung melalui kanal resmi PVMBG serta BMKG. (*)






