Pemerintah Lampung Percepat Pemadaman Karhutla dan Perkuat Mitigasi hingga Desa

- Editor

Senin, 19 Oktober 2026 - 13:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LAMPUNG, SEKABAR.ID – Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal meminta percepatan pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta penguatan mitigasi hingga tingkat desa. Langkah ini dilakukan untuk mencegah munculnya titik api baru di tengah kondisi cuaca yang masih kering dan panas.

Permintaan tersebut disampaikan Mirza dalam konferensi pers di Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Provinsi Lampung, Senin (19/10/2026).

Ia menegaskan, penanganan bencana membutuhkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah daerah, TNI, Polri, relawan, hingga masyarakat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Penanganan bencana tidak akan bisa dilakukan oleh pemerintah sendiri. Semangat kolaborasi itu harus kita dorong, dengan koordinasi yang baik bersama TNI, Polri, relawan, serta masyarakat di desa, kabupaten, kota, dan kecamatan,” kata Mirza.

Menurutnya, upaya penanganan karhutla tidak boleh hanya berfokus pada pemadaman setelah kebakaran terjadi. Pemerintah daerah perlu memetakan wilayah yang berulang kali terdeteksi memiliki titik panas (hotspot), sekaligus meningkatkan sosialisasi untuk mencegah pembakaran sampah dan lahan.

Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Lampung Aswarodi menjelaskan, pemantauan titik panas dilakukan melalui citra satelit, aplikasi Pusdalops, serta laporan masyarakat dan BPBD kabupaten/kota.

Data satelit diperbarui dua kali sehari, sekitar pukul 08.00 dan 20.00 WIB. Hasil pemantauan malam yang dirilis pagi hari rata-rata menunjukkan 30–60 titik panas, sedangkan hasil pemantauan siang yang dirilis malam hari berkisar 80–100 titik.

Namun, titik panas tidak selalu menunjukkan kebakaran karena dapat berasal dari suhu panas atau aktivitas pembakaran terkendali.

Baca juga:  Ramadan 1447 H, DPRD Lampung Tegaskan Dukungan Penuh Pengamanan Terpadu

Karena itu, Mirza meminta BPBD menyusun pola persebaran titik panas dan menyampaikan hasil pemetaan kepada pemerintah kabupaten/kota. Data tersebut diharapkan menjadi dasar bagi kepala desa untuk mengidentifikasi kebiasaan pembakaran di wilayah masing-masing dan memperkuat langkah pencegahan.

Kebakaran Way Kambas Berlangsung 24 Hari

Salah satu fokus penanganan karhutla berada di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur. Kebakaran di kawasan tersebut telah berlangsung selama 24 hari sejak 25 September 2026.

Hingga laporan penanganan 18 Oktober, pemadaman dari darat telah menjangkau sekitar 192 hektare. Sementara itu, operasi water bombing atau pengeboman air telah dilakukan sedikitnya 923 kali, dengan estimasi area yang terkena siraman sekitar 124 hektare.

Pemantauan menggunakan drone pada pukul 17.00 WIB sehari sebelumnya masih mengindikasikan sekitar 30 hektare area terbakar atau berasap. Area tersebut tersebar di titik B sekitar 3 hektare, titik C sekitar 13 hektare, dan titik D sekitar 14 hektare.

Operasi darat melibatkan empat tim yang melakukan pemantauan menggunakan drone, pemadaman di kawasan Rawa Gelam dan titik B, serta pembukaan jalur sekitar 6 kilometer menuju titik D.

Petugas menghadapi kendala berupa vegetasi yang rapat, keterbatasan peralatan dan logistik, serta jarak sumber air dari Sungai Way Pegadungan ke titik api yang mencapai sekitar 1,5 kilometer.

Untuk memperkuat penanganan, BNPB memberikan dukungan peralatan pemadaman yang direncanakan didistribusikan kepada sekitar 350 personel satuan tugas darat. Pemerintah Provinsi Lampung juga berharap ada tambahan helikopter untuk mendukung pemadaman dari udara.

Baca juga:  Pemprov Lampung Perkuat Kolaborasi CSR untuk Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat

Sebelumnya, BPBD Lampung bersama BNPB dan BMKG melaksanakan operasi modifikasi cuaca pada 11–13 Oktober 2026. Operasi tersebut mencakup tiga sorti penerbangan dengan total durasi 6 jam 16 menit dan penggunaan 3.000 kilogram natrium klorida (NaCl) sebagai bahan semai.

Operasi dihentikan pada 18 Oktober karena tidak ditemukan awan potensial untuk penyemaian. Berdasarkan perkiraan BMKG yang disampaikan dalam konferensi pers, cuaca diperkirakan masih sangat kering dan panas sehingga kewaspadaan terhadap kebakaran perlu dipertahankan.

Kebakaran di Lampung Tengah dan Menggala

Selain di Way Kambas, pemerintah menangani kebakaran di sekitar ruas gerbang tol Menggala, Kabupaten Tulang Bawang, serta lokasi pembuangan sampah di sekitar kilometer 132B Tol Lampung Tengah, tepatnya di Bandar Jaya Timur, Kecamatan Terbanggi Besar.

Kebakaran di Menggala yang terjadi pada 16 Oktober telah terkendali pada malam hari dan dilanjutkan dengan proses pendinginan untuk mencegah api kembali menyala.

Sementara itu, kebakaran di lokasi pembuangan sampah berdampak pada area sekitar 1,5 hektare. Tidak ada laporan korban jiwa maupun bangunan terdampak.

Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela mengoordinasikan dukungan personel dan armada pemadam dari sejumlah daerah untuk menangani kebakaran di Lampung Tengah.

Dukungan tersebut meliputi dua unit mobil pemadam dari Bandar Lampung serta masing-masing satu unit dari Metro, Lampung Selatan, dan Pesawaran, ditambah bantuan ekskavator.

Alat berat tersebut digunakan untuk mengurai dan membolak-balik tumpukan sampah agar api yang masih membara di bagian dalam dapat dipadamkan secara menyeluruh.

Baca juga:  Satpam Salah Satu BLK di Bandar Lampung Tewas Bunuh Diri

Kualitas Udara dan Aktivitas Gunung Anak Krakatau Dipantau

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Lampung Riski Sofyan melaporkan, hasil pengukuran kualitas udara di Bandar Lampung dan sekitarnya masih berada di bawah ambang batas baku mutu udara berdasarkan tujuh parameter Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang diperiksa.

Berdasarkan pembaruan pukul 09.00 WIB pada 19 Oktober 2026, kualitas udara dinyatakan masih dapat diterima bagi kesehatan manusia, hewan, dan tumbuhan. Meski demikian, masyarakat tetap diimbau menjaga lingkungan dan menerapkan langkah perlindungan kesehatan, terutama bagi kelompok sensitif.

Sementara itu, BPBD Lampung melaporkan empat erupsi berdurasi pendek Gunung Anak Krakatau pada 18 Oktober 2026.

Berdasarkan koordinasi dengan pos pengamatan dan relawan di Pulau Sebesi serta Pulau Tejang, abu vulkanik dilaporkan belum mencapai pulau-pulau terdekat. Kondisi gelombang juga masih normal.

Pemerintah terus memantau aktivitas gunung tersebut dan mengimbau masyarakat mengikuti informasi serta rekomendasi resmi dari otoritas terkait.

Mirza meminta seluruh unsur pemerintah, aparat, relawan, dan masyarakat tetap siaga hingga musim hujan tiba. Ia juga menekankan pentingnya penyampaian informasi bencana secara berkala agar masyarakat memperoleh informasi yang akurat.

Melalui percepatan pemadaman, pemetaan titik panas, patroli kawasan hutan, dan penguatan koordinasi lintas daerah, Pemerintah Provinsi Lampung berharap kebakaran dapat segera dikendalikan dan kejadian serupa dapat ditekan.

Upaya tersebut diharapkan dapat melindungi masyarakat dari dampak kebakaran dan asap, menjaga keselamatan pengguna jalan, serta mengurangi kerusakan lingkungan di Lampung. (*)

Berita Terkait

Abaikan Peringatan Penjaga Perlintasan, Pemotor Tewas Tertabrak Babaranjang di Bandar Lampung
Gunung Kucing di Ujung Tanduk: Pemkot Saling Lempar Kewenangan, WALHI Desak Bukit Dilindungi
Setelah 3 Hari Pencarian, Nelayan yang Jatuh dari Kapal di Labuhan Jukung Ditemukan Meninggal Dunia
Pemerintah Lampung Apresiasi Inovasi Pembudidaya Patin di Lampung Selatan
Gunung Anak Krakatau Erupsi Lima Kali, Kolom Abu Tertinggi Capai 500 Meter
Kadisdik Bersama Direktur Tujuh Enam Pilih Bungkam, Anggaran 2026 Rp11,5 Miliar Disdik Lamteng Terindikasi Monopoli
Klarifikasi Soal Penawaran Mepet Pagu Dinilai Blunder, Bagian Barjas Lampura Disorot Tajam LSM GEMAK
Mukhlis Basri Desak BPJT Periksa Tol Bakter Usai Kecelakaan Akibat Asap Tebal

Berita Terkait

Rabu, 21 Oktober 2026 - 11:31 WIB

KMP Batumandi Hangus Terbakar, Asap Masih Membubung di Perairan Merak

Selasa, 20 Oktober 2026 - 18:52 WIB

Kapal KMP Batu Mandi Terbakar di Perairan Merak, Asap Hitam Membumbung

Senin, 19 Oktober 2026 - 13:46 WIB

Nelayan Pesisir Barat Dikabarkan Tenggelam saat Memancing, Perahu Ditemukan Terbalik

Minggu, 18 Oktober 2026 - 21:09 WIB

Prabowo Terima Sekjen PBB António Guterres di Hambalang, Bahas Kerja Sama Multilateral

Jumat, 16 Oktober 2026 - 21:11 WIB

Malam Ini Prabowo Pimpin Rapat Kabinet Merah Putih di Istana Bogor

Jumat, 16 Oktober 2026 - 15:59 WIB

Prabowo Kumpulkan Menteri, Wamen, dan Kepala Badan di Istana Bogor Malam Ini

Selasa, 13 Oktober 2026 - 15:06 WIB

Bangkai KMP Nusajaya Hampir Habis Dipotong di Laut Merak, Izin dan Pengawasan Dipertanyakan

Jumat, 25 September 2026 - 15:57 WIB

Cek Penyaluran BBM Subsidi di Metro Kibang, QR Code dan Nopol Kendaraan Dicocokkan

Berita Terbaru